10 Sensor Sistem EFI Beserta Fungsinya
Jadi sekarang kita fokus untuk membahas sistem bahan bakar dari kendaraan. Pertama kita review terlebih dahulu memori kita tentang sistem bahan bakar konvensional yang dulu populer dan banyak digunakan pada kendaraan bermotor. Apakah kalian masih familiar dengan komponen seperti karburator?
Yap betul sekali, karburator itu merupakan komponen utama pada sistem bahan bakar sebelum sistem EFI diaplikasikan dan populer. Nah sesuai namanya "karburator" ini memiliki fungsi mengkarburasi cairan bahan bakar dan udara menjadi sebuah campuran yang homogen untuk disuplai ke dalam silinder.
Namun karena masalah efisiensi, isu lingkungan dan performa akhirnya sistem ini mulai ditinggalkan dan mulailah peralihan ke sistem kontrol elektronik. Sistem EFI (Elektronic Fuel Injection) mengontrol sistem bahan bakar kendaraan secara elektronik dengan menggunakan 3 perangkat utama yaitu sensor (pendeteksi), kontrol (pengatur), dan aktuator.
1. Sensor
Fungsi utama sensor adalah MENDETEKSI!
Kendaraan yang sudah menggunakan sistem EFI memiliki sensor yang akan melakukan pendeteksian pada sedikitnya 10 kondisi variatif yang mempengaruhi injeksi bahan bakar.
2. Kontrol
Fungsi utama sistem kontrol adalah MENGKALKULASI!
Seperti komputer, sistem EFI memiliki otak elektrik untuk memproses data dari hasil pendeteksian sensor. ECU (Electronic Control Unit) adalah perangkat kontrol yang digunakan pada sistem EFI untuk membaca sinyal dari sensor dan menghitung hasil pengkalkulasian. Hasil dari penghitungan ECU akan menghasilkan output dalam bentuk sinyal tegangan yang akan dikirimkan ke aktuator.
3. Aktuator
Fungsi utama aktuator adalah sebagai EKSEKUTOR!
Aktuator adalah bagian akhir dari mekanisme pada sistem EFI, dimana awal adalah proses pendeteksian kemudian dikalkulasi selanjutnya hasil dari kalkulasi ini akan dikirim ke aktuator dan aktuator inilah yang akan menjalankan fungsi kerja secara mekanis.
Pengontrolan secara elektronik pada sistem bahan bakar kendaraan bermotor akan menambah value baik dari segi pencampuran udara dan bahan bakar yang lebih homogen, maupun emisi gas buang yang lebih ramah lingkungan, by the way kedua hal ini pada dasarnya berkaitan yaaa. Dengan penggunaan sensor pada sistem EFI, berbagai kondisi variatif yang mempengaruhi kinerja mesin dapat dideteksi dengan lebih akurat. Tentu saja hal ini akan berpengaruh pada tingkat konsumsi bahan bakar (efesiensi).
Ok diatas gw udah jelasin bahwa sistem EFI ini menggunakan sensor, dimana sensornya itu mampu mendeteksi kondisi variatif yang mungkin terjadi. Lalu apa saja yang dapat dideteksi oleh sensor pada sistem EFI?
Ada setidaknya 10 sensor kendaraan yang pengguna mobil wajib tahu
10 Sensor Sistem EFI Beserta Fungsinya
1. Sensor CKP (Crankshaft Position Sensor)
![]() |
Sensor 1. Crankshaft Position Sensor |
Fungsi: Mendeteksi putaran crankshaft (Engine rpm) dan timing pengapian
Sensor CKP merupakan salah satu komponen penting pada sistem EFI pada kendaraan. Sensor ini berfungsi untuk mendeteksi putaran atau rotasi mesin kendaraan. Dengan mendeteksi kecepatan putaran dan posisi top piston, sensor CKP akan mengirimkan sinyal ke unit kontrol EFI untuk menentukan timing yang tepat untuk injeksi bahan bakar dan pengapian pada koil mesin. Dengan demikian, sensor CKP memainkan peran yang krusial dalam memastikan performa mesin kendaraan yang optimal dan efisien. Ketika putaran mesin kendaraan semakin tinggi, maka dibutuhkan pembukaan injektor yang lebih cepat sehingga dapat menyesuaikan dengan putaran mesin yang lebih tinggi.
2. Sensor CMP (Camshaft Position Sensor)
![]() |
Sensor 2. Camshaft Position Sensor |
Fungsi: Mendeteksi putaran camshaft, dari pendeteksian putaran camshaft ini CMP akan mengetahui dengan tepat posisi langkah piston saat di TMA (Titik Mati Atas) atau langkah isap dimana pada saat ini terjadi penginjeksian.
Sensor CMP (Camshaft Position Sensor) adalah salah satu sensor utama pada kendaraan dengan sistem EFI. Sensor ini mendeteksi posisi dari poros nok dan poros cam yang berputar. Sensor CMP memberikan informasi kepada ECU (Electronic Control Unit) mengenai posisi camshaft pada mesin. Informasi ini kemudian digunakan oleh ECU untuk mengatur waktu pembukaan injektor dan pengapian, sehingga mesin dapat berjalan secara optimal. Jika terjadi masalah pada sensor CMP, maka mesin kendaraan akan sulit untuk dihidupkan atau bahkan tidak dapat dihidupkan sama sekali. Sensor CMP bekerja dengan cara mendeteksi perubahan magnetik pada camshaft, dan menghasilkan sinyal listrik yang kemudian diolah oleh ECU.
3. Sensor TPS (Throttle Position Sensor)
![]() |
Sensor3. Throttle Position Sensor |
Fungsi: Mendeteksi sudut bukaan katup throttle
Sensor TPS (Throttle Position Sensor) adalah sensor yang terletak pada throttle body atau katup gas pada sistem EFI kendaraan. Karenanya apabila terjadi perubahan sudut pada throtle valve maka TPS akan medeteksinya dan mengirimkan sinyal listrik ke ECU untuk melakukan kalkulasi. Hasil dari kalkulasi ini akan dikirimkan ke injektor dalam bentuk sinyal listrik sehingga terjadi penginjeksian bahan bakar. Sensor ini juga berfungsi untuk mengontrol bahan bakar agar terhenti ketika kendaraan melakukan deselerasi. Bukaan katup throttle yang besar akan membuat injektor membuka dalam waktu yang lebih lama (bahan bakar yang diinjeksikan lebih banyak). Dengan adanya sensor TPS, sistem EFI dapat mendeteksi posisi katup throttle, sehingga injeksi bahan bakar bisa diatur dengan tepat pada saat deselerasi. Hal ini dapat meningkatkan efisiensi bahan bakar pada kendaraan.
4. Sensor ECT (Engine Collant Temperatur) / WTS (Water Temperatur Sensor)
![]() |
Sensor 4. Engine Coolant Temperature |
Fungsi: Mendeteksi suhu air pendingin
Sensor ECT (Engine Coolant Temperature) sebenarnya bisa ditempatkan di beberapa tempat di dalam sistem pendingin mesin, tergantung pada desain kendaraan. Namun, tempat yang umum untuk pemasangan sensor ECT adalah pada blok mesin atau housing thermostat di bagian bawah. Sensor ECT menggunakan pendeteksi panas tipe NTC (Negatif Temperature Coefisien). Metoda pendeteksiannya yaitu ketika suhu air pendingin naik maka tahanan atau resistansi pada sensor ini akan turun. Begitu juga sebaliknya, sensor ECT juga berfungsi sebagai pengontrol kipas radiator untuk menjaga suhu mesin tetap pada level yang optimal. Ketika suhu mesin sudah mencapai temperatur kerja yang ditentukan, sensor ECT akan memberikan sinyal ke ECU untuk mengaktifkan kipas radiator sehingga suhu mesin tetap stabil dan tidak overheat.
5. IATS (Intake Air Temperatur Sensor)
![]() |
Sensor 5. Intake Air Temperature Sensor |
Fungsi: Mendeteksi suhu udara yang masuk ke intake manifold
IATS atau Intake Air Temperature Sensor merupakan sensor yang mendeteksi suhu udara di dalam intake manifold. Hal ini penting karena suhu udara masuk dapat mempengaruhi jumlah bahan bakar yang harus diinjeksikan ke mesin agar pembakaran optimal. Semakin dingin udara masuk, semakin banyak bahan bakar yang diperlukan untuk menghasilkan pembakaran yang sempurna. Sedangkan jika udara masuk terlalu panas, maka perlu dikurangi jumlah bahan bakar yang diinjeksikan untuk menghindari terjadinya detonasi. Oleh karena itu, IAT akan memberikan informasi tentang suhu udara masuk ke ECU, sehingga ECU dapat mengontrol jumlah bahan bakar yang diinjeksikan ke mesin secara tepat.
6. Oksigen Sensor
![]() |
Sensor 6. Oksigen Sensor |
Fungsi: Mendeteksi kadar okigen didalam gas buang
Oksigen sensor merupakan jenis sensor koreksi, dimana sensor ini ditempatkan pada bagian exhaust kendaraan. Kendaraan kita menggunakan mesin pembakaran dalam sebagai penggerak, yang mana tenaga utamanya berasal dari proses pembakaran bahan bakar di dalam mesin tersebut. Kita tahu semua jenis pembakaran akan menghasilkan gas sisa pembakaran.
Gas sisa pembakaran inilah yang akan keluar melewati exhaust. Konsentrasi gas buang akan dideteksi oleh oksigen sensor untuk kemudian oksigen sensor akan memberikan sinyal ke ECU sehingga ECU dapat mengatur perbandingan campuran udara dan bahan bakar ke tingkat paling optimal. Tentunya dengan ditempatkannya oksigen sensor kita bisa tahu bahwa kendaraan bekerja dengan AFR yang ideal atau tidak dengan melihat nilai konsentrasi oksigen di dalam gas buang.
7. MAP sensor (Manipold Absolute Pressure)
![]() |
Sensor 7. Manifold Absolute Pressure |
8. AFM (Air Flow Meter)

Fungsi sensor ini adalah untuk mengukur jumlah udara yang masuk ke dalam silinder
Sensor ini terdapat pada EFI tipe L.Sensor AFM umumnya ditempatkan di antara filter udara dan katup throttle pada kendaraan. Terdapat dua metode pendeteksian pada sensor AFM, yaitu metode langsung dan tidak langsung.
Sensor AFM yang ditempatkan antara filter udara dan throttle memiliki dua metode pendeteksian yaitu deteksi langsung dan tidak langsung. Pada metode deteksi langsung, terdapat beberapa cara untuk mendeteksi aliran udara seperti menggunakan sensor air flow dengan menggunakan vane, sensor air flow meter tipe karman vortek, dan sensor air flow meter dengan pendeteksian berat seperti hot wire type dan hot file type. Sedangkan pada metode deteksi tidak langsung, digunakan sensor air flow meter dengan tipe speed density dan sensor air flow meter tipe throttle speed.
9. Knock Sensor
![]() |
Sensor 9. Knock Sensor |
Knock sensor berfungsi untuk mendeteksi detonasi atau knocking pada mesin
Post a Comment for "10 Sensor Sistem EFI Beserta Fungsinya"